Fall In Love With Coffee Shop

Dia tersenyum pada sebuah sudut coffee shop dengan meja kayu klasik dengan hiasan lampu tempel disamping tempat duduknya.
Rambut pirangnya dibelai lembut oleh angin sore itu. Scarf wol berwarna krem tua yang melingkari lehernya membuat dirinya terlihat sempurna yang sedang berdiri terpaku dengan senyuman kecil.
Tatapan mata yang sedang memainkan beberapa scenes kenangan disudut itu semakin berbinar.
Dia pun mengedipkan mata sambil menyimpulkan bibirnya, pertanda bahwa dirinya ingin membuyarkan khayalan yang ada di otaknya.

Ia masih ingat dengan jelas dirinya disudut coffee shop itu 3 tahun silam.
Hot latte dengan buku roman menjadi teman santainya kala itu. Senja dengan kombinasi gerimis menghiasi suasana kota sore itu.
Ramalan cuaca mengatakan untuk membawa payung jika akan keluar rumah, namun tidak untuk Maydan. Laki-laki dengan coat panjang yang basah kuyup dengan tergesa-gesa masuk kedalam coffee shop untuk berteduh. Oh ya, apakah aku menyebutkan suhu diluar? It’s 12°C. Cukup dingin untuk ukuran musim semi dan cukup ceroboh untuk mereka yang tidak menyiapkan scarf ataupun payung.

Maydan dengan tergesa-gesa mencari tempat kosong yang kebetulan penuh. Ya, hanya mejanya Gwen yang bisa ditempati.
Tanpa keraguan, Maydan mendekati meja gadis berbaju rajutan biru dengan segelas Hot Latte dan menyapanya.
Mata coklat Gwen terbelak kaget ketika seorang laki-laki mirip dengan James McAvoy menanyakan untuk berbagi meja dengannya. Dengan nada gugup, Gwen mengiyakan laki-laki basah kuyup yang mulai kedinginan tersebut duduk berhadapan dengannya.
Simpul senyuman tipis dari bibir Gwen menandakan hormon endorphine menguasainya saat itu. Dan dia menikmatinya.

Maydan akhirnya membuka percakapan dengan perkenalan. Perkenalan biasa yang tidak disangkanya menjadi awal cintanya dengan gadis cantik dihadapannya.
Hujan dan kopi menyatukan mereka dalam kehangatan bulan April.

Gwen semangat bercerita tentang roti gandum yang berisi selai kacang dan stroberi didalamnya. Betapa Maydan setuju bahwa kombinasi kacang dan stroberi adalah keajaiban mutlak yang Tuhan ciptakan!
Candaan dan tawa membuat Gwen menutup buku romannya dan memulai menimpali apa yang Maydan katakan.
Maydan menirukan suara burung unta marah yang mengejar dirinya ketika kecil di kebun binatang. Gwen cannot resist to hard laugh with her coffee cup between her fingers.

Hujan diluar coffee shop telah berhenti satu jam yang lalu.
Namun obrolan Gwen dan Maydan seakan tidak bisa dihentikan. Mereka sudah memesan masing-masing 2 cup coffee, waffles, dan pisang panggang madu.
Pelayan kedainya tersenyum melihat dua anak muda yang tidak kenal satu sama lainnya beberapa jam yang lalu, yang kini menjadi sangat akrab karena segelas kopi.

Musim semi bulan April menghangatkan kerinduan akan sudut itu untuk Gwen. Betapa dirinya merindukan Maydan yang sedang bertugas menjaga negaranya di negara konflik yang terkenal brutal akan kemanusiaan.
Dirinya tidak bisa menahan airmatanya untuk tidak membasahi scarfnya.
Maydan yang periang, Maydan yang bermata biru, Maydan yang mencintainya dengan segala romantisme sederhana. Maydan yang pergi meninggalkannya di tanah tempat dirinya menaruh jutaan harapan dan doa, agar kelak Maydan kembali dengan pelukan hangat.

Kekalnya musim semi 3 tahun lalu menghangatkan jiwa Gwen yang cemas menanti kabar tentang seseorang yang telah menyematkan cincin dan janji diantara jemarinya.

Romantisme hujan yang mengajarkan kepadanya tentang kesederhanaan cinta, seakan masih menghangatkan dirinya paling tidak satu tahun ini.

Harapan kembali dengan kehormatan sebagai prajurit bangsa membuatnya tersenyum manis dan optimis dengan segala kabar baik yang diterimanya.

Ratusan surat yang tertulis untuk dirinya cukup menggantikan sosok Maydan dalam tiga ratus hari belakangan ini.


Gwen melangkah semakin menjauhi coffee shop, namun kenangan cinta yang bersemi pada bulan April itu tidak bisa menjauhkan dirinya. Selamanya.

Soraya Rahman
April, 2nd 2014.
Jakarta, 23:36 WIB

The Sound Of Silence - Simon & Garfunkel #lyric #beach #instagramhub #photooftheday #javasea #vscocam #instago

The Sound Of Silence - Simon & Garfunkel #lyric #beach #instagramhub #photooftheday #javasea #vscocam #instago

Mustache Boy

Mustache Boy

This is what you called #insomnia ! (GMT +7)

This is what you called #insomnia ! (GMT +7)

Siang tadi aku menyempatkan diri ke salah satu mini market yang dekat dengan kosanku untuk mengecek sisa uang di ATM.
Dihalamannya terdapat buah mahoni berjatuhan dan sebagian sudah rusak karena terinjak-injak.
Sepintas memang tidak ada yang spesial tentang benda ini.
Coklat, gepeng, mudah rusak.
Buatku benda ini bisa membuatku tersenyum sekaligus bersyukur :)
Bukan hanya sekali ini mataku berbinar dan senyumku mengembang saat ku pegang benda ini.
Benda ini melayangkan ingatanku sekitar 13 tahun lalu. Ya, tahun 1998.
Tahun dimana Indonesia diguncang reformasi besar-besaran yang menimbulkan efek domino yang sangat menyedihkan.
Pembantaian terhadap kaum Tionghoa, penjarahan, bakar-bakaran, dan tentunya berimbas kepada PHK massal.
Ayahku salah satu yang merasakan efek domino tersebut. PHK.
Umurku baru 8 tahun saat itu. Kelas 3 SD.
Keadaan yang berubah drastis membuat keluarga kami harus sigap mensiasati keuangan dengan sangat-sangat bijak.
Karena saat itu, hanya ibuku yang mencari nafkah untuk kami sekeluarga. 
Dalam waktu setahun-dua tahun, ayah belum mendapatkan pekerjaan. Keuangan kami terus memburuk.
Ceria kami sebagai anak kecil seketika berkurang karena segalanya dirasakan tidak sama seperti dulu.
Namun ayahku tidak lelah-lelahnya menghibur tiga anaknya yang masih berusia dibawah 12 tahun dengan mainan-mainan yang dibuatnya sendiri.
Salah satunya dari benda ini.
Buah mahoni ini bila diterbangkan akan membentuk pola putar yang teratur. Demikian sederhananya, ayah membuat kami senang menerbangkan buah-buah mahoni setinggi-tingginya, 
Ayah membuat mainan baru yang seru untuk saat itu!
Aku bertanya, dimana dia dapatkan benda unik ini?
Ayah akan menjawab “nanti kalau kamu mau lagi, ayah yang ambilkan”
Sesederhana itu mainan kami. Karena ketidakmampuan orang tua kami untuk mengajak kami keluar ketempat-tempat wisata mahal di tahun yang sulit tersebut.
Bukan hanya buah mahoni saja. Bahkan ayah pernah mengawetkan kumbang kayu yang kepalanya sudah patah, lalu dipamerkan kepada kami. Lagi-lagi sesederhana itu cara ayah mengembalikan senyum kami.
Setelah 13 tahun berlalu, aku dan ayah masih tersenyum bila menemukan benda ini di jalan. 
Dengan senyum kecil dan mata yang mengisyaratkan kenangan, kami pasti menerbangkan benda ini setinggi-tinggi mungkin sambil berucap syukur bawha kami pernah melewati fase kehidupan sulit itu.
Ayah mengajarkanku, bahwa bahagia itu se-sederhana itu :)
SRYRHMN
Bandung, 15 Sept 2013

Siang tadi aku menyempatkan diri ke salah satu mini market yang dekat dengan kosanku untuk mengecek sisa uang di ATM.
Dihalamannya terdapat buah mahoni berjatuhan dan sebagian sudah rusak karena terinjak-injak.
Sepintas memang tidak ada yang spesial tentang benda ini.
Coklat, gepeng, mudah rusak.
Buatku benda ini bisa membuatku tersenyum sekaligus bersyukur :)

Bukan hanya sekali ini mataku berbinar dan senyumku mengembang saat ku pegang benda ini.
Benda ini melayangkan ingatanku sekitar 13 tahun lalu. Ya, tahun 1998.
Tahun dimana Indonesia diguncang reformasi besar-besaran yang menimbulkan efek domino yang sangat menyedihkan.
Pembantaian terhadap kaum Tionghoa, penjarahan, bakar-bakaran, dan tentunya berimbas kepada PHK massal.
Ayahku salah satu yang merasakan efek domino tersebut. PHK.
Umurku baru 8 tahun saat itu. Kelas 3 SD.
Keadaan yang berubah drastis membuat keluarga kami harus sigap mensiasati keuangan dengan sangat-sangat bijak.
Karena saat itu, hanya ibuku yang mencari nafkah untuk kami sekeluarga.
Dalam waktu setahun-dua tahun, ayah belum mendapatkan pekerjaan. Keuangan kami terus memburuk.
Ceria kami sebagai anak kecil seketika berkurang karena segalanya dirasakan tidak sama seperti dulu.
Namun ayahku tidak lelah-lelahnya menghibur tiga anaknya yang masih berusia dibawah 12 tahun dengan mainan-mainan yang dibuatnya sendiri.
Salah satunya dari benda ini.
Buah mahoni ini bila diterbangkan akan membentuk pola putar yang teratur. Demikian sederhananya, ayah membuat kami senang menerbangkan buah-buah mahoni setinggi-tingginya,

Ayah membuat mainan baru yang seru untuk saat itu!
Aku bertanya, dimana dia dapatkan benda unik ini?
Ayah akan menjawab “nanti kalau kamu mau lagi, ayah yang ambilkan”

Sesederhana itu mainan kami. Karena ketidakmampuan orang tua kami untuk mengajak kami keluar ketempat-tempat wisata mahal di tahun yang sulit tersebut.

Bukan hanya buah mahoni saja. Bahkan ayah pernah mengawetkan kumbang kayu yang kepalanya sudah patah, lalu dipamerkan kepada kami. Lagi-lagi sesederhana itu cara ayah mengembalikan senyum kami.

Setelah 13 tahun berlalu, aku dan ayah masih tersenyum bila menemukan benda ini di jalan.
Dengan senyum kecil dan mata yang mengisyaratkan kenangan, kami pasti menerbangkan benda ini setinggi-tinggi mungkin sambil berucap syukur bawha kami pernah melewati fase kehidupan sulit itu.

Ayah mengajarkanku, bahwa bahagia itu se-sederhana itu :)




SRYRHMN
Bandung, 15 Sept 2013

Me! #1

mau cerita sedikit tentang habitual gue akhir-akhir ini.

mungkin akan terdengar sedikit cheesy karena aneh. but yeah, this is me. I cant deny it anymore..

****

awalnya gue engga mau menerima ‘gift’ gue yang bisa melihat banyak makhluk tak kasat mata atau bahasa kerennya sih ‘sixth sense’. udah bertahun2 sih sebenrnya. tapi baru sekarang2 ini gue bener2 ngerasa perlahan semuanya menjadi sangat kompleks. yang tadinya cuma segede upil, sekarang berubah jadi segede bongkahan batu kali (analogi yang agak lebay tapi rada tepat juga lah hahaha)

gue awalnya menolak dengan gift yang gue punya ini. tapi setelah dijalani gue berpikir….yasudahlah, ini bagian dari hidup gue kok :)

awalnya takut. sempet kepikiran gimana nantinya kalo kemampuan gue makin berkembang? apakah gue bakalan nyaman dengan ini semuanya? tapi dengan segala keberanian gue, gue bawa enjoy aja lah…

akhir2 ini lagi sering ‘bocor’ (istilah kalo lagi kuat banget gift gue itu). mungkin karena itu gue jadi sering capek secara psikis akhir2 ini. karena energi yang dibutuhkan buat liat hal seperti itu engga sedikit, alias kudu pake banyak energi.

nah, gue barusan aja nyoba ‘baca’ seseorang pake gift gue itu. biasanya klo gue lagi banyak energinya, bisa langsung ke direct kepikiran orang itu, but not with this one..

gue lupa kalo orang ini punya ‘bawaan’ yang jagain dia. ibaratnya gue nembus tembok pake kapas. ya kalah lah kapasnya. 

sehabis gagal nyobain ‘baca’ orang itu, jujur gue lemes selemes-lemesnya. rasanya pengen muntah saking lemesnya. unlucky me :(

gue jadi percaya apa yang orang bilang, semakin besar gift lo, semakin besar pula energi yang akan dikeluarkan.

jujur, gue beloman bisa kontrol gift gue ini sampe saat ini. jadi ya…..sering kewalahan sendiri. kadang sampe sakit kepala karena terlalu lemes abis ngobrol ini itu dengan mereka.

***

Cheesy rite? 

But yeah, this is me….

NIGHTNIGHT by DEDDY